Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kepala BRIN Dorong UPN Veteran Yogyakarta Siapkan SDM Adaptif di Era AI

Kepala BRIN dorong UPN “Veteran” Yogyakarta siapkan SDM adaptif, berkarakter, dan mampu memanfaatkan AI di tengah perubahan teknologi.

Kepala BRIN Arif Satria saat memberikan kuliah umum di UPN Veteran Yogyakarta
Kepala BRIN Prof. Dr. Arif Satria menyampaikan kuliah umum di UPN “Veteran” Yogyakarta pada Kamis, 10 September 2026. (Dok. Ist)

PEWARTA JOGJA — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., mendorong Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta memperkuat sumber daya manusia (SDM) yang cepat belajar dan mampu beradaptasi menghadapi perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Pesan tersebut disampaikan Arif saat memberikan kuliah umum di UPN “Veteran” Yogyakarta, Kamis (10/9/2026). Menurutnya, pesatnya perkembangan AI membuat perguruan tinggi perlu melakukan penyesuaian dalam pendidikan, riset, dan pengembangan SDM.

Arif menilai kemampuan belajar dan beradaptasi atau learning agility menjadi salah satu kebutuhan penting di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat.

Perkembangan AI dan robotik, lanjut dia, juga berpotensi mengubah lanskap pendidikan tinggi karena sejumlah pekerjaan rutin, termasuk bagian dari proses pembelajaran, semakin dapat dilakukan oleh teknologi.

Perubahan tersebut membuat peran dosen perlu berkembang. Dosen tidak cukup hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi harus memberikan nilai tambah yang sulit direplikasi oleh mesin.

“Sekarang ketika kita bicara teaching university, yang kita hadapi adalah humanoid teacher. Bahkan Bill Gates mengatakan, 10 tahun lagi guru-guru bisa digantikan AI. Pertanyaannya, bagaimana transformasi kita?” ujar Arif.

Dosen dituntut memberi nilai tambah

Menurut Arif, kemajuan AI seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas pendidik. Ia membedakan antara pendidik yang hanya menyampaikan materi dengan pendidik yang mampu menjelaskan, mengembangkan pemikiran, hingga menginspirasi.

“Guru yang bisa digantikan AI adalah guru yang biasa. Dosen yang bisa digantikan AI adalah dosen biasa. Dosen yang biasa hanya bisa menyampaikan, dosen yang baik bisa menjelaskan, tetapi dosen yang hebat bisa menginspirasi. Yang tidak bisa digantikan AI adalah dosen yang hebat,” tegasnya.

Ia juga menyoroti perubahan kemampuan intelektual yang sebelumnya menjadi keunggulan manusia. Sejumlah kemampuan tersebut kini semakin mudah dikerjakan mesin, sementara kebijaksanaan, empati, nilai, dan pertimbangan kemanusiaan tetap menjadi aspek penting dalam peran manusia.

“Kepintaran yang saya pandang, otak ini sudah digantikan oleh mesin semua. Namun, bicara soal wisdom, itu soal hati. Itu tidak bisa digantikan oleh mesin,” katanya.

Karena itu, perguruan tinggi dinilai perlu membangun SDM yang memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat, adaptif terhadap perubahan, serta mampu menggunakan teknologi secara produktif dan bertanggung jawab.

Kurikulum perlu mengikuti perubahan teknologi

Arif juga mendorong pembaruan kurikulum agar pendidikan tinggi tetap relevan dengan perkembangan AI dan kebutuhan dunia kerja. Mahasiswa perlu dibekali kemampuan menggunakan teknologi tersebut untuk menghasilkan pengetahuan, inovasi, dan solusi bagi masyarakat.

“Perguruan tinggi juga harus menyesuaikan kurikulumnya agar tetap relevan dengan ancaman dan peluang di era AI. Jangan sampai kita hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus mampu memanfaatkan AI untuk menghasilkan pengetahuan, inovasi, dan solusi bagi masyarakat,” katanya.

Menurutnya, transformasi perguruan tinggi tidak berhenti pada penguasaan teknologi. Penguatan kompetensi manusia tetap menjadi bagian penting agar AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung kemajuan pendidikan dan riset.

Selain pengembangan kurikulum, Arif menekankan perlunya kolaborasi penelitian yang lebih luas, baik secara nasional maupun internasional. Jejaring tersebut dinilai dapat membuka akses terhadap pengetahuan dan teknologi sekaligus memperkuat ekosistem inovasi.

“Kolaborasi global menjadi semakin penting. Perguruan tinggi perlu memanfaatkan jejaring internasional dan memperkuat kolaborasi riset untuk membangun ekosistem pemodelan berbasis AI yang kuat dan kompetitif,” ujar Arif.

Ia berharap perguruan tinggi di Indonesia dapat mengambil posisi strategis dalam perkembangan AI. Perguruan tinggi diharapkan tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi ikut menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang memberikan dampak bagi masyarakat dan bangsa.

UPN Veteran Yogyakarta siapkan SDM adaptif

Rektor UPN “Veteran” Yogyakarta, Prof. Dr. Mohamad Irhas Effendi, M.Si., menyambut positif arahan tersebut. Ia menyatakan perkembangan AI menjadi momentum bagi kampus untuk memperkuat kualitas SDM di lingkungan UPN “Veteran” Yogyakarta.

“UPN ‘Veteran’ Yogyakarta berkomitmen memperkuat SDM yang memiliki learning agility, sehingga mampu belajar, beradaptasi, dan merespons perubahan dengan cepat. Penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter, kepemimpinan, integritas, dan wisdom,” ujar Irhas.

Irhas menilai perubahan teknologi juga menuntut pergeseran peran dosen di ruang pendidikan. Ketika informasi semakin mudah diperoleh dan AI dapat menjadi sumber pembelajaran, dosen perlu berperan sebagai fasilitator sekaligus inspirator.

“Dosen ke depan bukan hanya lecturer, tetapi juga harus menjadi fasilitator dan inspirator. Teknologi dapat membantu proses pembelajaran, tetapi nilai-nilai kebangsaan, integritas, kepemimpinan, dan kepekaan sosial harus tetap menjadi bagian penting dari pendidikan,” ungkapnya.

UPN “Veteran” Yogyakarta juga melihat AI sebagai peluang untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi. Sinergi dengan BRIN diarahkan pada pengembangan teknologi, peningkatan kapasitas SDM, serta penguatan kerja sama penelitian.

Melalui kolaborasi tersebut, UPN “Veteran” Yogyakarta berkomitmen mengembangkan riset dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan bangsa. Jejaring penelitian di tingkat nasional dan internasional juga akan diperluas untuk meningkatkan dampak penelitian.

Sebagai Kampus Bela Negara, UPN “Veteran” Yogyakarta menempatkan penguasaan teknologi dan pembangunan karakter sebagai dua hal yang perlu berjalan beriringan. AI dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat riset, dan mendorong inovasi, tetapi manusia tetap berperan dalam menentukan arah, nilai, dan manfaat teknologi.

Kuliah umum Kepala BRIN tersebut menjadi bagian dari momentum UPN “Veteran” Yogyakarta memperkuat transformasi pendidikan tinggi di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat. Tantangan era AI dinilai membutuhkan SDM yang adaptif, berkarakter, mampu berkolaborasi, dan memiliki kebijaksanaan dalam memanfaatkan teknologi untuk kepentingan masyarakat dan bangsa.

Pilihan Redaksi:
Tersalin 👍
PEWARTA Jogja
PEWARTA Jogja
Media online Pewarta.co.id regional Yogyakarta (Pewarta Jogja). Menyajikan informasi berita Jogja terkini up to date.

WARTA JOGJA TERBARU

  • Kepala BRIN Dorong UPN Veteran Yogyakarta Siapkan SDM Adaptif di Era AI
  • Kepala BRIN Dorong UPN Veteran Yogyakarta Siapkan SDM Adaptif di Era AI
  • Kepala BRIN Dorong UPN Veteran Yogyakarta Siapkan SDM Adaptif di Era AI
  • Kepala BRIN Dorong UPN Veteran Yogyakarta Siapkan SDM Adaptif di Era AI
  • Kepala BRIN Dorong UPN Veteran Yogyakarta Siapkan SDM Adaptif di Era AI
  • Kepala BRIN Dorong UPN Veteran Yogyakarta Siapkan SDM Adaptif di Era AI