Jelang Musim Hujan, Pemkot Jogja Diminta Petakan Sungai Rawan Banjir
![]() |
| Pemkot Jogja diminta memetakan sungai dan bantaran yang rawan banjir sebagai langkah mitigasi sebelum musim hujan. (Dok. Ist) |
PEWARTA JOGJA — Pemkot Jogja diminta memperkuat mitigasi banjir dengan memetakan kembali sungai dan bantaran yang masih tergolong rawan menjelang musim hujan. Langkah tersebut dinilai penting agar potensi gangguan aliran air dapat ditangani sebelum hujan dengan intensitas tinggi terjadi.
Wakil Ketua I DPRD Kota Jogja RM Sinarbiyat Nujanat mengatakan kesiapsiagaan menghadapi bencana perlu dilakukan melalui langkah antisipatif dan preventif. Pemerintah daerah juga dinilai harus memastikan dukungan anggaran tersedia untuk merespons kondisi darurat.
"Anggaran bencana ini sebetulnya terkait dengan antisipasi dan kita melakukan langkah-langkah preventif," katanya, Kamis (10/9/2026).
BTT disiapkan sebagai alternatif
Menurut Sinarbiyat, kebutuhan anggaran menjadi bagian penting karena bencana dapat muncul sewaktu-waktu dan membutuhkan penanganan cepat. Selain anggaran kebencanaan, pemerintah dapat menggunakan Belanja Tidak Terduga (BTT) ketika situasi masuk kondisi darurat.
Ia menyebut ketersediaan BTT dalam APBD Perubahan Kota Jogja cukup longgar. Pos tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif pembiayaan apabila anggaran khusus bencana tidak mencukupi.
Penggunaan BTT tetap harus disesuaikan dengan kondisi kedaruratan serta kebijakan dan keputusan kepala daerah.
"Kalau toh di anggaran kebencanaannya tidak cukup memadai untuk mengantisipasi jika kemudian terjadi bencana di wilayah Jogja, paling tidak di BTT itu harapannya bisa meng-cover," ujarnya.
Kampung Tangguh Bencana jadi modal
Dari sisi kesiapan masyarakat, Sinarbiyat menilai sumber daya manusia di Kota Jogja relatif siap menghadapi risiko bencana. Salah satu penopangnya adalah keberadaan Kampung Tangguh Bencana (KTB) yang tersebar di berbagai wilayah.
KTB disebut telah didukung peralatan dan perlengkapan kebencanaan melalui APBD DIY maupun APBD Kota Jogja. BPBD Kota Jogja bersama Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan juga secara berkala memberikan pelatihan kepada masyarakat.
Pelatihan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas warga sekaligus menyegarkan kembali pengetahuan mengenai penanggulangan bencana.
"Saya kok punya keyakinan masyarakat Kota Jogja sangat siap," katanya.
Kondisi sungai perlu dicek sebelum hujan
Meski kesiapan masyarakat dinilai cukup baik, mitigasi tetap perlu diperkuat karena Kota Jogja menghadapi sejumlah potensi bencana. Selain dampak aktivitas Gunung Merapi dan gempa bumi, banjir menjadi salah satu ancaman yang perlu mendapat perhatian.
Kota Jogja dilintasi sejumlah sungai, termasuk Sungai Gajah Wong dan Sungai Winongo. Karena itu, kawasan sungai serta bantaran yang berpotensi terdampak banjir perlu diidentifikasi sebelum memasuki musim penghujan.
"Yang pertama harus mencermati, mengidentifikasi sungai-sungai dan bantaran sungai yang masih masuk kategori rawan," tuturnya.
Pemeriksaan juga perlu mencakup kondisi talud sungai dan sedimentasi. Endapan lumpur yang menumpuk dinilai dapat mengganggu aliran sehingga perlu ditangani lebih awal.
"Talutnya mungkin juga sedimentasi lumpur sehingga perlu pengerukan, perlu pelimpuran dan lain sebagainya," katanya.
Menurut Sinarbiyat, penanganan kondisi sungai sebaiknya dilakukan sebelum intensitas hujan meningkat. Dengan demikian, persoalan di sepanjang aliran sungai dapat diminimalkan dan potensi banjir di kawasan bantaran dapat ditekan.
"Kita harapkan semua banjir di bantaran sungai itu sudah tidak terjadi lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Sungai-sungai kita sudah jauh lebih tertata, jauh sudah bisa memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat," katanya.
