14 Tahun Keistimewaan DIY, Warga Gelar 'Memetri Jogja Merawat Nusantara' di Malioboro
![]() |
| Pertunjukan seni dan budaya “Memetri Jogja Merawat Nusantara” digelar di kawasan Malioboro untuk memperingati 14 tahun Keistimewaan DIY. (Dok. Ist) |
PEWARTA JOGJA — Kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta, menjadi ruang perayaan 14 tahun Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui pertunjukan seni dan budaya “Memetri Jogja Merawat Nusantara” pada Minggu (30/8/2026) malam.
Kegiatan tersebut memperingati 14 tahun disahkannya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY. Acara juga menjadi wadah kolaborasi masyarakat sekaligus penggalangan donasi bagi korban bencana alam di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Panggung diisi berbagai kesenian, mulai dari musik, drama, paduan suara hingga tari dari sejumlah daerah di Indonesia. Penampilan tersebut melibatkan berbagai komunitas dan kelompok seni dalam semangat kebersamaan.
Pertunjukan diawali Sanggar Biola Quinta yang membawakan sejumlah lagu nasional dan daerah. Setelah itu, penonton disuguhi drama bertema Spiritual Art karya Agus Becak dan kolega yang mengangkat rekam jejak perjuangan masyarakat Yogyakarta dalam mengawal pengesahan UUK DIY.
Nuansa budaya Nusantara kemudian semakin kuat dengan penampilan Tari Pujiastuti dari Paguyuban Nayantaka, Tari Angguk Nganglang dari Sanggar Lestari Budaya Imogiri, serta Paduan Suara Mahasiswa Universitas Sanata Dharma.
Sejumlah kesenian dari luar Jawa juga tampil, di antaranya Tari Bawin dari Sanggar Hamaring Kalimantan Tengah, Tari Tunggal dari Forum Pemuda Pemudi Dayak, dan Tari Bidu Elele dari Ikatan Keluarga Malaka NTT.
Gerakan swadaya warga
Ketua Sekber Keistimewaan DIY Widihasto Wasana Putra mengatakan kegiatan tersebut lahir dari inisiatif masyarakat tanpa bergantung pada satu kelompok tertentu. Sejumlah pihak yang terlibat antara lain Paguyuban Lurah Nayantaka, IKPMD, Komunitas Malioboro, dan Hamzah Batik.
“Ini inisiatif warga untuk mengingatkan kembali kepada masyarakat luas bahwa perjuangan Undang-Undang Keistimewaan adalah buah perjuangan seluruh komponen masyarakat. Harapannya, kolaborasi seni dari berbagai daerah ini bisa menghadirkan satu spirit kebersamaan dari Yogya untuk Indonesia,” ujar Widihasto di sela acara.
Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa peringatan Keistimewaan DIY juga dapat menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat dari latar belakang yang berbeda.
Keistimewaan DIY harus diwujudkan dalam laku
Ketua DPRD DIY Nuryadi yang hadir memberikan pidato kebudayaan menilai Keistimewaan DIY merupakan hasil perjalanan sejarah yang panjang. Karena itu, nilai yang terkandung di dalamnya perlu terus dirawat dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat.
“Sejak Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia pada masa awal kemerdekaan, Yogyakarta telah membuktikan bahwa menjaga identitas lokal dan memperkokoh NKRI adalah dua hal yang berjalan beriringan,” paparnya.
Nuryadi juga mengangkat filosofi “Memayu Hayuning Bawana” sebagai salah satu nilai penting dalam memaknai Keistimewaan DIY. Filosofi tersebut, menurutnya, perlu diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sebatas slogan.
“14 tahun UUK DIY bukan sekadar produk hukum, melainkan mandat untuk terus memetri dan menghidupi nilai-nilai luhur Yogyakarta. Namun, memetri tidak boleh berhenti pada kata-kata. Ia harus menjelma dalam laku nyata dan kerja bersama lintas elemen seperti yang kita saksikan malam ini,” pungkasnya.
Empat komitmen dalam Ikrar Keistimewaan
Peringatan tersebut mencapai puncaknya melalui pembacaan empat poin Ikrar Keistimewaan. Ikrar itu memuat komitmen untuk menjunjung cita-cita adiluhung pendiri Yogyakarta dengan falsafah Hamemayu Hayuning Bawana dan Golong Gilig.
Komitmen berikutnya adalah menjaga jati diri masyarakat yang inklusif, nasionalis, dan berbudaya. Warga juga menegaskan tekad mengamalkan nilai kepemimpinan Tahta untuk Rakyat demi keadilan dan kesejahteraan bersama.
Poin terakhir menekankan pentingnya menyatukan langkah melalui kolaborasi untuk menjaga kelestarian Yogyakarta sekaligus keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Seluruh rangkaian kemudian ditutup dengan doa lintas agama dan penyerahan secara simbolis donasi kemanusiaan yang telah dihimpun untuk membantu korban bencana di NTT.
